Jumat, 12 Juli 2013

Ternyata MJKT48 diperlakukan seprti Kerja Rodi

Nieh ada sedikit INFO Menyedihkan datang dari penderitaan semua MJKT48 dan JOT dalam JKT48..

*sumber kaskus diteruskan oleh FansPage facebook*

Disimak ya~

''Theater dan Bunga Misteri''

Mungkin di antara para Wota,
fans, atau apapun namanya,
udah sering dan ga asing
denger nama Jiro – atau
mungkin masih lebih kenal
sama Balenk? Ya, Jiro-san ini
saya kurang tau posisinya apa
di JKT Official Team, yang jelas
dia itu Boss-nya. Ada apa
dengan si J-san ini? Menjawab
pertanyaan “Ada apa” ini
susah-susah gampang. Tapi
saya akan coba bikin jawaban
segampang mungkin.
Kemarin (26 Januari 2013), saya
dapat pengalaman yang cukup
berharga dan informatif.
Seperti biasa, awalnya niat WL
di Theater karena ga dapet
email verifikasi. WL gagal,
akhirnya saya nungguin temen
saya yang orang JOT (JKT
Official Team) juga. Saya tau
kalau kemarin sore itu bakal
diadain shooting untuk Team-J
karena temen saya udah
ngasih kabar di hari
sebelumnya.
Singkatnya, proses shooting ini
memakan waktu sampai
hampir pagi (sekitar jam 4
pagi). Dan saya mau ga mau
juga nungguin temen saya
sampai jam segitu. Sekitar jam
setengah satu, saya turun dari
F5 ke depan JKT48 Theater.
Duduk di situ, ngobrol sama
security-nya, dan di sini saya
berhasil mendapat informasi
cukup banyak.
***

J-san, sebagai Big-B tentunya
memegang kendali penuh
terhadap seluruh kegiatan
manajemen JKT48. Begini,
semalam saya hanya melihat
sekumpulan orang-orang yang
kelelahan di dalam JKT48
Theater. Ga peduli segaya
apapun penampilan mereka,
mukanya kusut, lecek! Dan
berkali-kali dari mulut mereka
cuma keluar keluhan capek.
Ya, para crew dan JOT
kayaknya emang udah ga bisa
lagi pura-pura pasang tampang
cool dan sok galak kayak kalau
lagi menghalau para Wota
garis keras. Saya kebetulan
sempat ikut salah satu security
ngintip ke dalem stage untuk
ngeliat prosesi shooting Setlist
Pajamas Drive yang totalnya 16
lagu itu. Apa yang terlihat?
Member yang terus berusaha
mengulang take karena udah
ga konsentrasi, crew yang
mondar-mandir sambil ngeliat
jam dan memasang muka
lelah, temen saya pun berkali-
kali harus menutup mulutnya
yang keliatan menguap.
Security itu – saya lupa
namanya, juga cuma bisa
bilang, “Member pada tepar
semua, Mas.”, diiringi gelengan
kepala. Saya cuma tersenyum
kecut sambil menahan desiran
miris di dada. Kita berdua balik
ke depan, ngobrol lagi.
Obrolan keluar begitu aja,
random, ga jelas – tapi begitu
seru dan menarik. Dan
beberapa kali kita masuk ke
dalam topik manajemen JOT.
***

Kata-kata yang keluar dari
security berkumis ini polos,
jujur, tapi penuh hal yang
mengejutkan. Dia bercerita
panjang lebar, memberikan
pandangan terhadap kegiatan
yang selama ini berlangsung di
JKT48. Saya emang bukan
orang yang baru banget tau
soal JKT48, apalagi temen saya
juga seorang JOT. Tapi denger
pendapat dari orang awam ini,
saya kaget.
Awalnya saya cuma
memancing dengan pertanyaan
sederhana, “Yang ubanan itu
Jiro ya, Pak?”. Kebetulan J-san
baru aja melewati kami
berdua, mungkin dia mau
pulang – semoga. Dari situ si
bapak security ini cerita. Dan
dari percakapan kami, berikut
yang bisa saya tangkap:
Untuk seukuran JKT48 yang
punya nama dan fans di mana-
mana, gaji mereka cuma
sedikit lebih banyak dari UMR
DKI Jakarta tahun 2012. Baru
terhitung Januari 2013 ini
mereka naik gaji jadi dua kali
lipatnya. Sementara, gaji para
petinggi – sebut aja si Balenk,
katanya sampai sekitar 10 kali
lipatnya – silakan itung sendiri
berapa-berapanya.
Pembayaran gaji member
keliatannya sering telat. Dua
kali saya denger ada yang
bilang gaji mereka telat
dibayar sampai sebulan –
sementara show terus
berjalan.
“Jam kerja” mereka ngalahin
jam kerja karyawan. Bisa
dibilang mereka itu kerja rodi.
Bahkan kalau ada acara
khusus kayak kemarin, mereka
harus nginep di Theater.
Segala pendapatan, dari show,
iklan atau penjualan SWAG
masuk ke pihak manajemen
dengan pembagian yang
kayaknya juga ga jelas –
mengingat para member ini
belum punya kontrak. Padahal,
pendapatan stand SWAG
sendiri bisa lebih dari 50 juta
sehari.
Kasus graduate tertentu,
kayak Cleo atau Ochi, besar
kemungkinan berawal dari
persoalan gaji atau kebijakan
dan kinerja J-san yang ga
memuaskan di mata ortu
kedua member itu.
Dulu ortu member yang mau
nonton show tetep harus bayar
kayak yang lain. Alhamdulillah
sekarang udah gratis. Dan itu
juga bisa gratis karena banyak
protes dari member.
Persetujuan proposal show
yang berbelit. Pihak JOT terlalu
banyak maunya. Mungkin itu
sebabnya JKT48 jarang tur ke
luar kota, ga ada yang mampu
memenuhi persyaratan yang
diajuin JOT karena terlalu
mahal.
J-san orang yang terlalu praktis
tapi ga efisien – mungkin lebih
cocok disebut “semaunya
sendiri”. Kalau malam itu dia
minta sesuatu dan besok
paginya harus selesai, maka itu
yang harus terjadi.
J-san terkesan ga peduli sama
segala tudingan negatif soal
kinerjanya. Selama dia masih
punya sesuatu yang bisa
menghasilkan uang untuk dia –
para member, dia bakal tetep
tenang-tenang dan seneng-
seneng aja.
Dan J-san mengerti bahasa
Indonesia. Ini kayak pedang
bermata dua. Dalam satu sisi
komunikasi bisa berjalan
lancar, tapi di sisi lain pasti
susah untuk ngomongin J-san.
Ada sepuluh poin – kurang
lebih. Bukan masalah jumlah
poinnya, tapi besarnya
pengaruh yang dihasilkan dari
poin tersebut. Contoh paling
kecil, ya seperti poin nomer
lima, member bakal graduate.
Satu, dua, tiga orang mungkin
keliatan dikit dari total
member Team-J yang semula
ada 24 orang. Tapi kalau ini ga
segera dihentikan? Silakan
difikir dan dijawab sendiri.
Bahkan kemarin saya liat
beberapa ortu member keluar
dari lorong Theater dengan
wajah kesal. Ada sekitar empat
orang saya hitung, salah
satunya ada ibunya Beby dan
ibunya Shanju. Seorang laki-
laki – entah ayahnya siapa,
terlihat yang paling emosi.
Sepanjang jalan menuju lorong
lift dia terus ngomel-ngomel.
Intinya dia marah karena ga
dikabarin kalau shooting-nya
itu sampai jam segini (sekitar
setengah satu pagi) belum
selesai, apalagi nanti paginya
mereka harus show lagi di
Dahsyat, dan siangnya mereka
ada show juga di Idola Cilik.
Rena, cuma bisa diem waktu
dimarahin ibunya di lorong lift
sekitar jam dua. Saya ga tau
apa isi percakapan mereka
karena pakai bahasa Jepang.
***

Semakin pagi, suasana semakin
tegang dan semakin ngantuk.
Dan itu memperlambat proses
shooting yang berjalan. Ya,
semua udah capek, ngantuk,
kedinginan, laper, mungkin
juga badannya lengket karena
belum kena air. Ortu member
yang pulang juga makin
banyak. Mereka milih pulang
dan ninggalin member untuk
nginep di Theater. Baru besok
paginya mereka nyusul ke
studio RCTI.
Obrolan saya masih berlanjut,
sambil diiringi backsound lagu-
lagu dari setlist Pajamas Drive
– yang sesekali diulang karena
kemungkinan besar para
member tampil kurang
maksimal. Beberapa crew yang
keluar menjawab tinggal tiga
lagu lagi, tapi mereka ga
berani mastiin sampai jam
berapa. Saya liat security yang
satu lagi udah tidur dibalik
stand SWAG.
Ga lama saya turun untuk
ngopi bareng Pak Kumis ini.
Sekarang topik obrolan
meluas, tapi saya coba pancing
lagi ke arah JOT – berhasil. Dia
bilang, “Sebetulnya menurut
saya member itu kasian lho,
Mas. Gini, coba sampeyan
bayangin, mereka kerja sampe
kayak gitu, cuma digaji segitu,
telat lagi. Yang manajernya ga
ngapa-ngapain malah gajinya
gede banget. Yang capek
siapa, yang kaya siapa.”.
Dia nyeruput kopi sebentar –
dan lanjut ngomong lagi.
“Padahal seandainya mereka
keluar terus ikut main film,
sinetron atau semacamnya gitu
saya yakin gajinya lebih besar
lho, Mas. Dan tentunya ga
secapek ini, karena ada
manajer, kan. Lha, yang
sekarang ini manajer mereka
siapa? Paling orang tuanya. Jiro
itu udah jelas nganggep
mereka kayak mesin duitnya
dia, Mas.”
“Pernah, Mas waktu itu dia
nyuruh ngecat tembok depan
Theater. Nyuruhnya malem,
tapi maunya pagi udah kelar.
Wah, Mas! Itu yang namanya
kipas angin kita pasang semua
biar cepet kering! Bau catnya
kemana-mana! Kacau itu
orang. Kayaknya dendam
banget itu orang Jepang sama
kita.”, Pak Kumis terus
berceloteh.
Intinya, J-san ini lagi melakukan
perbudakan – yang berkedok
dunia hiburan, entertainment,
Idol atau apapun namanya.
Bahkan orang awam kayak
salah satu temen saya juga
bisa liat itu. Para member ini
pastinya sadar kalau mereka
udah terjebak. Mereka
menderita – mungkin. Tapi
mereka ga bisa ngapa-ngapain
selain menikmati
penderitaannya – atau keluar
dan meninggalkan embel-
embel “JKT48”.
Saya masih inget sekitar jam
setengah dua, ga sengaja pintu
staff kebuka. Dari dalem saya
denger ada yang teriak “Woi,
capek, nih! Capeeek!”, yang
kemudian saya tau itu Melody.
Itu pasti cuma sebagian
teriakan yang berhasil keluar
dari mulut mereka. Selebihnya,
mereka harus menelan lagi
semua. Atau, kejadian seperti
Oshi saya – Ghaida, akan
terulang.
Di taksi, saya sempet nyeletuk
ke temen saya yang JOT itu,
“Parah, ya si Jiro. Maksud gw,
mereka itu cewek, bukan kuli!
Ga heran Cleo sama Ochi
graduate… Untung kejadian
kayak gini ga sering.”. Temen
saya sambil terkantuk-kantuk
nimpalin omongan saya, “Kalo
sering pada graduate semua,
Yud.”. Saya diem sambil
mengangguk pelan.

√.) Percaya tidak percayanya tergantung dari hak kalian,,

*mungkin berita diatas tercerminkan dalam foto ini*


0 komentar:

Posting Komentar